Forsita wellcome

SEPATAH KATA ►►ASSALAMU'ALAIKUM...MARHABAN YAA RAMADHAN - WELLCOME TO SMP BUDI BHAKTI DEPOK

Rabu, 21 April 2021

JADWAL KEGIATAN SANLAT

 


AMALAN UTAMA DI BULAN RAMADHAN




AMALAN UTAMA DI BULAN RAMADHAN

Tanpa terasa kita telah memasuki malam ke-2 dibulan Ramadhan, dimana kenikmatan telah kita rasakan sewaktu kita berbuka puasa tadi. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang berpuasa sebagaimana Rasulullah bersabda dalam hadits qudsi

“…untuk orang yang berpuasa ada dua kenikmatan yang dia dapatkan yaitu kenikmatan pada saat berbuka puasa dan kenikmatan pada saat berjumpa dengan Allah…” (muttafaqun ‘alaih).

Selain melaksanakan ibadah puasa yang merupakan kewajiban di bulan Ramadhan, shalat lima waktu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, ada juga beberapa amalan utama yang semestinya kita tunaikan untuk mendapatkan kebaikan dan kemuliaan, yaitu :

1. Menghiasi malam Ramadhan dengan shalat tarawih

Shalat malam pada bulan Ramadhan dapat menyebabkan diampuninya dosa-dosa terdahulu, juga memiliki kenikmatan dan keceriaan. Dari Abu Hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah menganjurkan shalat malam pada bulan Ramadhan tanpa mewajibkannya kemudian beliau bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 

“barang siapa yang berdiri melaksanakan shalat dibulan ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala disisi Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lampau”. (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
Dan sebaiknya dilaksanakan secara berjamaah, sebagaimana dalam salah satu riwayat disebutkan barangsiapa yang mendirikan shalat malam bersama dengan imam sampai selesai maka dicatat baginya shalat satu malam” (HR. Assunan)

 

2. Mengakhirkan makan sahur dan segera berbuka

Makan sahur adalah merupakan salah satu sunnah dari sunnah-sunnah yang dilakukan bagi orang yang berpuasa dan kemuliaan bagi ummat Islam. Sebagaimana dalam satu riwayat disebutkan

“bersahurlah karena pada sahur itu terdapat berkah” (HR. Bukahri dan Muslim).

Sayyid Sabiq menyebutkan dalam Fiqh Sunnah bahwa penyebab berkahnya sahur karena menguatkan tubuh, menggiatkan dan memudahkan. Demikian pula mempercepat berbuka, sebagaimana dalam salah satu riwayat disebutkan

“Orang-orang akan masih mendapat kebajikan selagi mereka segera berbuka” (HR. Bukhari)

3. Memperbanyak bersedekah

Memperbanyak bersedekah dibulan Ramadhan adalah merupakan amalan yang utama juga. Dimana Rasulullah mengajarkan kita untuk memperbanyak bersedekah dibulan ini. Rasulullah adalah orang yang sangat dermawan dan beliau lebih dermawan lagi terutama di bulan Ramadhan. Dalam satu riwayat disebutkan

“sebaik-baik sedekah adalah sedekah dibulan Ramadhan” (HR. Tirmidzi).

Dan diantara sedekah itu adalah memberi penganan buka puasa bagi orang yang berpuasa. Rasulullah bersabda

“barangsiapa yang memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka ia memperoleh sebesar pahala dengan tidak berkurang sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu” (HR Tirmidzi)

4. Berusaha bersungguh-sungguh untuk meraih malam lailatul qadr

Allah menamainya malam Lailatul Qadr karena keagungan nilainya dan ketinggian kedudukannya disisi Allah, juga karena banyaknya ampunan bagi dosa-dosa dan tertutupinya ‘aib pada malam itu. Olehnya malam itu merupakan malam ampunan, sebagaimana disebutkan dari hadits Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah bersabda

“barang siapa melakukan qiyamul lail pada malam Lailatul Qadr atas dasar keimanan dan penuh berharap kepada Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu juga malam Lailatul Qadr merupakan malam kemuliaan yang lebih mulia dari seribu bulan. Olehnya bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya adalah meruapakan upaya yang berharga.

5. Memperbanyak dzikir, do’a dan istighfar

Memperbanyak doa dan istighfar disaat berpuasa, sebagaimana disebutkan

“sesungguhnya do’a orang yang puasa pada saat buka tidak tertolak” (HR. Hakim)

demikian pula dalam riwayat yang lain disebutkan

“tiga golongan yang tidak tertolak doanya : imam yang adil, orang yang berpuasa sampai berbuka dan orang yang dianiyaya” (HR. Baihaqi)

 

KISAH TELADAN

 

KISAH TELADAN 

Siti Masyitoh: Syahid demi Iman






Rasulullah SAW berisra mi’raj tercium aroma sangat harum. Penasaran, Nabi bertanya kepada Malaikat Jibril, “Harum apakah itu wahai Jibril?’’ Malaikat Jibril menjawab, itu adalah wangi dari kubur an seorang perempuan shalihah bernama Siti Masyitoh dan anak-anaknya. Kisah perempuan yang memegang teguh kebenaran dan ke imanan kepada Allah SWT ini diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas.

Siapa Siti Masyitoh, perempuan shalehah yang dimaksud Malaikat Jibril? Ia hidup di zaman Firaun, si raja kejam yang menganggap diri nya sebagai tuhan. Di sekitar Firaun ternyata ada beberapa orang dekat yang diam-diam beriman kepada Allah dan Nabi Musa AS. Mereka mengikuti tuntunan Kitab Taurat.

Orang-orang terdekat itu adalah Siti Aisyiah, yaitu istri dari Firaun, dan Siti Masyitoh yang mengurus anak Firaun. Seorang lagi bernama Hazaqil. Ia adalah pembuat peti, tempat Musa balita ditaruh untuk kemudian dihanyutkan di sungai.

Di istana, Hazaqil menjadi orang kepercayaan Firaun. Ia menikah dengan Siti Masyitoh. Suatu hari terjadi perdebatan sengit antara Firaun dengan Hazaqil. Firaun menjatuhkan hukuman mati kepada ahli sihir yang menyatakan beriman kepada Nabi Musa. Keputusan tersebut ditentang keras oleh Hazaqil.

Sikap tersebut membuat Firaun curiga. Jangan-jangan Hazaqil selama ini beriman pula kepada Nabi Musa. Atas sikap Hazaqil itu, Firaun mengganjarnya dengan hukuman mati. Hal itu tak membuat Hazaqil takut. Ia tetap yakin Tuhan yang diimani-Nya tidak ada yang lain, kecuali Allah.

Suami Siti Masyitoh ini ditemukan meninggal dengan kondisi mengenaskan. Tangannya terikat di pohon kurma, tubuhnya penuh de ngan tusukan anak panah. Masyitoh sangat sedih melihat kondisi suaminya. Namun ia bersabar dan ber serah diri kepada Allah. Ia berkeluh kesah ke istri Firaun, Siti Aisyiah.

Aisyah pun memberikan nasihat agar Masyitoh dan anak-anaknya sabar. Namun, ia bisa membaca isya rat dari Siti Masyitoh yang beriman kepada Allah. Di akhir nasihatnya, Aisyiah mengatakan bahwa selama ini dia juga beriman kepada Allah, tapi menyembunyikan dihadapan suaminya.

Rahasia terungkap
Sepeninggal suaminya, seperti biasa Masyitoh menjalankan tugasnya sebagai perias putri Firaun. Ada kisah sepele, tapi berdampak besar. Gara-gara sisir yang terjatuh, akhir nya terungkap jati diri Masyitoh. Saat itu Masyitoh sedang menyisir ram but anak Firaun. Tiba-tiba sisir dalam genggamannya terjatuh. Ketika mengambil lagi sisir tersebut, bibirnya reflek mengucap, ‘’Bismillah.’’

Ucapan itu membuat anak Firaun terkejut. “Apakah ucapan yang kamu maksud adalah bapakku,” tanya anak Firaun. Siti Masyitoh dengan jujur mengatakan bahwa maksud kata itu ialah Tuhan sesungguhnya, bukan ditujukan untuk Firaun. “Yaitu Rabbku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah,” katanya Jawaban itu membuat anak Firaun tersinggung, berarti ada Tuhan lain kecuali bapaknya. Anak Firaun itu mengancam melaporkan keyakinan Masyitoh tersebut kepada bapaknya. Masyitoh tidak gentar, karena ia yakin Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, bukan Firaun.

Laporan anaknya membuat Firaun murka. Ia tidak menyangka, pengasuh anaknya adalah pengikut Nabi Musa. Masyitoh dipanggil lalu ditanya oleh Firuan, “Apakah benar apa yang disampaikan anakku? Siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?’ Masyitoh tidak mengelak tuduhan itu. Dengan tegas dia mengatakan, ‘’Betul, Raja yang lalim. Bahwa tiada tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai alam dan isinya.’’

Jawaban itu membuat Firaun semakin marah. Dia memerintahkan para pengawal menyiapkan minyak mendidih di dalam tembaga besar. Wadah panas itu untuk menggodok Masyitoh beserta anak-anaknya. Pemandangan itu disaksikan masyarakat luas. Sebelum dimasukkan ke minyak panas, Masyitoh diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih; dia dan dua anaknya selamat jika mengakui Firaun sebagai tuhan. Sebaliknya, nyawanya terancam jika tidak mau mengakui ketuhanan Firaun.

Tidak gentar
Siti Masyitoh tidak gentar terhadap ancaman Firaun. Ia tetap yakin Tuhan yang sesungguhnya hanyalah Allah, bukan Firaun, raja yang zalim. Pendirian Masyitoh semakin mempermalukan Firaun. Raja kejam itu memerintahkan peng awal segera melemparkan Ma syitoh bersama anak-anaknya ke dalam minyak mendidih.

Kisah ini disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, bahwa, “Firaun memerintahkan melemparkan anak Masyitoh satu persatu di hadapan ibunya hingga yang terakhir bayi yang se dang menyusu dalam pelukan Ma syitoh.’’

Ibu mana yang tega menyaksikan satu persatu anaknya tergerus minyak panas. Ketika giliran bayi terakhir akan dimasukkan tembaga panas, Masyitoh sempat ragu. Kekuasaan Allah menciptakan bayi itu tiba-tiba bisa bicara, “Jangan takut dan sangsi, wahai ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT, dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.” Riwayat lain, bayi Masyitoh meyakinkan ibunya, “Sabarlah wahai ibuku, sesungguhnya kita dalam pihak yang benar. Wahai ibu masukanlah, karena sesungguhnya siksa dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.’’ (HR Ahmad).

Kekuatan anaknya membuat keraguan Masyitoh hilang. Dengan yakin dan ikhlas kepada Allah, Ma syitoh membaca, “Bismillahi tawakkal tu ‘alallah wallahu akbar.’’ Siti Masyitoh dan bayinya terjun ke minyak mendidih. Ajaib, begitu minyak panas menggerus raga orang-orang istiqamah itu tercium wangi yang sangat harum dari dalam kuali.

Allah telah membuktikan kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah. Ketika Masyitoh dan anak- nak nya dilemparkan satu persatu ke periuk, Allah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka sehingga mereka tidak merasakan panasnya minyak mendidih.

Tulang belulang Masyitoh bersama anak-anaknya dikubur di suatu tempat hingga mengeluarkan wangi yang sangat harum. Aroma itu tercium oleh Rasulullah SAW ketika perjalanan Isra Mi’raj. “Itulah kuburan Masyitoh bersama anak-anaknya,’’ kata Malaikat Jibril.  

ADAB BERGAUL DALAM ISLAM

 



ADAB BERGAUL DALAM ISLAM 

  

Etika pergaulan remaja menurut islam
Islam telah mengatur tata cara pergaulan yang baik dan berakhlak karimah,karena tata cara pergaulan islam itu dilandasi dengan nilai-nilai agama.tata cara itu meliputi :

1. Mengucapkan salam
Ucapan salam yaitu ketika kita bertemu teman atau orang lain karena mengucapkan salam itu adalah doa,maka jika kita mengucapkan salam berarti kita telah mendoakan teman kita.dan menjawab salam itu hukumnya adalah wajib. Fenomena yang terjadi saat ini dikalangan remaja jarang ditemukan saling berucap salam, justru yang banyak terjadi adalah ucapan kasar dan jorok seperti misuh (Jawa) dan yang paling memprihatinkan adalah banyak gadis yang ikutan berucap misuh padahal merekalah yang akan melahirkan generasi penerus,
النساء عماد البلاد perempuan adalah tiang Negara
Bila dari mulut para perempuan adalah kata-kata yang kasar dan jorok maka apa yang terjadi pada generasi yang dilahirkan mereka,sungguh tragis !

2. Menghargai hak milik teman
Kita tidak boleh meremehkan hak-hak atau milik teman kita karena itu bukan hak kita dan Dan apabila mau menggunakan barang-barang milik orang lain kita perlu meminta izin terhadap pemiliknya terlebih dahulu.

3. Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda
Remaja sekarang seharusnya menghormati orang tua dan mengambil pengalaman dari mereka.dan kepada yang lebih muda sebaiknya remaja sekarang menuntun, mengajari kepada yang lebih muda agar beretika yang baik.

4. Bersikap santun dan tidak sombong
Dalam bergaul,agar teman merasa nyaman terhadap kita harus berperilaku yang baik dan santun.dan sikapn remaja yang dasar yaitu ingin lebih dari pada temannya padahal Allah membenci sikap sombong.

5. Tidak boleh saling menghina
Menghina dalam agama islam hukumnya dilarang. oleh karena itu, sebaiknya menghina itu harus di hindari sesama teman.

6. Pengendalian pergaulan antara laki-laki dan perempuan

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari pria dan wanita dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia (diantara kalian) di sisi Allah adalah yang paling bertakwa (dari) kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (lagi) Maha Teliti.” (QS. Al Hujurat :13)

Manusia, termasuk di dalamnya remaja, baik pria maupun wanita, keduanya dibekali oleh Allah SWT dengan sebuah potensi hidup (thaqah hayawiyah) dan pemikiran/ akal. Potensi tersebut berupa dorongan kebutuhan jasmani (hajat ‘udhawiyyah) dan berbagai potensi naluri (gharaiz). Kebutuhan jasmani di stimulus dari dalam diri manusia/ internal, seperti rasa haus, lapar, dll. Sehingga tuntutan pemenuhannya adalah suatu keniscayaan. Jika tidak dipenuhi maka akan mendatangkan penyakit, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Namun tidak demikian halnya dengan potensi naluriah. Allah SWT menganugerahkan pada kita naluri beragama (ghorizah tadayyun), naluri untuk mempertahankan kehidupan (ghorizah baqo)dan naluri seksual untuk melestarikan keturunan (ghorizah nau), yang ketiganya di stimulus dari luar/ eksternal, berupa fakta-fakta dan pemikiran. Tuntutan pemenuhannya tidak pasti, tidak sampai menimbulkan kematian dan bisa di-manage. Fakta bahwa wanita dapat membangkitkan naluri seksual pria, tidak berarti bahwa naluri tersebut pasti muncul setiap kali seorang pria bertemu dangan wanita. Demikian pula sebaliknya. Akan tetapi, fakta itu menunjukkan bahwa pada dasarnya, keberadaan setiap pria atau wanita dapat membangkitkan naluri tersebut pada lawan jenisnya, sehingga dapat mendorong masing-masing dari keduanya untuk melakukan hubungan di luar batas-batas keridhoan Allah SWT.
Sudah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun bukankah jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali dan tidak mematuhi batasan-batasan sebagaimana yang digariskan oleh Allah SWT, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri? Seruan Allah SWT yang secara khusus kepada kaum laki-laki dan perempuan , bahkan mengulang-ngulang seruan (khithab) ini, menunjukkan kepada kita betapa pentingnya kesadaran akan keniscayaan untuk senantiasa menetapi dan mentaati hukum Allah dalam masalah ini.
Dengan demikian, Islam melarang segala tindakan yang dapat melemahkan dan merusak akal. Sehingga tercipta suasana masyarakat Islam yang dipenuhi Taqorrub Ilallah, bukan masyarakat yang dipenuhi dengan nafsu syahwat yang melahirkan ketidak jelasan keturunandan kekacauan nilai-nilai agama. Terciptanya kehidupan yang bersih dan diliputi oleh suasana keimanan kepada Allah SWT dan pemenuhan naluri seksual hanya pada kehidupan suami istri, bukan kepada selainnya.

Alangkah indahnya kehidupan ini bila remaja generasi islam selalu hidup dalam tatanan ajaran Islam sehingga lahirlah generasi islam yang membanggakan semua orang.

 

HIKMAH PUASA



HIKMAH PUASA

1. Puasa mensucikan jiwa

Hikmah puasa yang pertama adalah tazkiyatun nafs; mensucikan jiwa. Mengapa? Karena dengan puasa, manusia memilih untuk menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal untuknya.

Sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari manusia menahan diri dari makan, minum, dan jima’. Kalau ia mau ia bisa saja melakukannya. Toh tidak ada yang mengetahuinya.

Saat berada di rumah yang tertutup, di dalam kamar yang terkunci, tidak ada orang lain yang mengetahui jika ia makan atau minum. Tetapi ia tidak melakukannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى ، الصِّيَامُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“…dia tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan dengan istrinya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di sinilah hikmah puasa, ia menahan nafsu yang merupakan bagian dari kotoran jiwa. Puasa membersihkan jiwa yang umumnya terkotori karena memperturutkan hawa nafsunya.

2. Puasa memupuk muraqabatullah

Ibadah puasa sangat berbeda dengan ibadah lainnya yang mudah dilihat oleh sesama manusia. Shalat di masjid kelihatan, sedekah di masjid kadang diumumkan, zakat dicatat, haji justru diantar berombongan.

Puasa? Tidak ada yang melihatnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat melihat makanan atau mencium bau yang lezat, orang yang berpuasa tidak memakannya. Ketika ada minuman yang menggoda, dalam kondisi haus pun orang yang berpuasa tidak meminumnya. Karena ia memiliki kesadaran, meskipun tidak ada yang melihat, Allah mengawasinya.

Muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah, ini adalah salah satu hikmah puasa. Yang jika dibawa dalam kehidupan sehari-hari, ia akan terjaga dari berbagai kejahatan seperti berbohong, zalim dan korupsi. Sebab ia yakin Allah mengawasinya.

3. Puasa meredam syahwat

Dalam kondisi lapar dan haus, gejolak syahwat bisa diredam. Senjata ampuh yang digunakan syetan untuk menjerumuskan manusia itu bisa dikendalikan dengan puasa. Karenanya Rasulullah memerintahkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat mengontrol syahwatnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Puasa melatih kesabaran

Meskipun miliknya sendiri, makanannya halal, minumannya halal, itu semua tidak akan dikonsumsi kalau belum tiba waktu berbuka. Meskipun lapar, ditahan. Meskipun haus, ditahan. Orang yang berpuasa menjadi lebih sabar.

Demikian pula saat ada orang mencela dirinya atau mengajaknya berselisih, Rasulullah mengajarkan untuk menahan diri.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai, maka barang siapa sedang berpuasa janganlah berkata keji dan mengumpat. Jika seseorang mencela atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: aku sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaih)

Ini salah satu hikmah puasa; melatih kesabaran.

5. Puasa membentuk disiplin

Puasa memiliki waktu yang mengikat. Kapan mulai berpuasa sudah ada waktunya, yakni mulai terbit fajar. Kapan berbuka juga ada waktunya, yakni ketika matahari terbenam.

Rasulullah juga mensunnahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Jika di bulan lainnya sulit bangun malam, ternyata waktu Ramadhan bisa. Disiplin bangun dini hari untuk makan sahur bahkan qiyamul lail. Ini bukti salah satu hikmah puasa membentuk disiplin.

6. Hikmah puasa secara medis

Puasa memberi kesempatan bagi alat pencernaan untuk beristirahat. Dengan peristirahatan yang teratur ini maka alat pencernaan menjadi lebih sehat. Dan sudah menjadi hal yang lazim bahwa puasa dipakai untuk mengobati beberapa pasien dan ketika akan melakukan operasi besar.

Telah terbukti kebenarannya secara ilmiah bahwa memperbanyak makan bisa menimbulkan penyakit seperti rematik, penyakit liver, tekanan darah tinggi, dan kencing manis. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa puasa akan bisa memberikan kesempatan istirahat bagi tubuh setiap tahunnya dalam waktu tertentu, yaitu seperdua belas dari umur si pasien. Oleh karena itu, kata Said Hawwa dalam Al Islam, penyebaran jenis-jenis penyakit seperti ini di daerah-daerah yang penduduknya terbiasa menjalankan puasa sangat rendah.

Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar mencontohkan KH Hasyim Asyari yang gemar berpuasa sunnah. Meskipun usia beliau sudah tua, namun kondisi fisiknya sehat dan terjaga dari penyakit kadar gula.

7. Hikmah puasa secara sosial

Dengan berpuasa, orang merasakan lapar dan dahaga. Orang kaya jadi tahu seperti apa rasanya tidak makan, meskipun hanya sekitar 14 jam.

Dari situ timbul kepekaan bagaimana rasanya orang-orang yang kekurangan makanan. Bahkan mungkin tidak bisa makan dalam hitungan hari seperti yang terjadi di Suriah atau di Rohingya.

Maka kepekaan itu pun melahirkan empati untuk menolong sesama manusia terutama yang membutuhkan.

8. Hikmah puasa membentuk taqwa

Pada akhirnya, secara keseluruhan dan target akhir, puasa bermaksud membentuk pribadi yang bertaqwa. Yang mentaati perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

  

Selasa, 20 April 2021

Goresan Pena

 


 'Goresan Pena'

Tinta kehidupan tak selamanya indah,,

Terkadang warnanya kelam,

Terkadang tak sengaja tercoret,

Bahkan tumpah merusak semuanya.

Namun apapun itu, tak dapat dicegah,,

Tak dapat dihapus,

Dan mungkin memang seharusnya terjadi seperti itu,,,

Patutkah kita menyesal?

Mungkin awalnya ada penyesalan,

Rasa sakit yang menyesakkan

Namun bisa jadi suatu saat nanti,

bagian kelam dari hidup kita menjadi kekuatan terbesar

yang akan memotivasi diri kita

bersabarlah,,teruslah melangkah,

yakinlah bahwa pada hakekatnya kebahagiaan itu

ada dalam gengaman kita,

teruslah berjuamg,,berikhtiyar, dan berdoa,

semoga Alloh senantiasa meridhoi langkah kita

dalam merajut benang kehidupan,

Aamiin.