1. Puasa mensucikan
jiwa
Hikmah puasa yang pertama adalah
tazkiyatun nafs; mensucikan jiwa. Mengapa? Karena dengan puasa, manusia memilih
untuk menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal untuknya.
Sejak terbit fajar hingga terbenamnya
matahari manusia menahan diri dari makan, minum, dan jima’. Kalau ia mau ia
bisa saja melakukannya. Toh tidak ada yang mengetahuinya.
Saat berada di rumah yang tertutup, di
dalam kamar yang terkunci, tidak ada orang lain yang mengetahui jika ia makan
atau minum. Tetapi ia tidak melakukannya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى ، الصِّيَامُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“…dia tidak makan, tidak minum, dan
tidak berhubungan dengan istrinya karena-Ku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang
akan memberinya pahala.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Di sinilah hikmah puasa, ia menahan
nafsu yang merupakan bagian dari kotoran jiwa. Puasa membersihkan jiwa yang
umumnya terkotori karena memperturutkan hawa nafsunya.
2. Puasa memupuk
muraqabatullah
Ibadah puasa sangat berbeda dengan
ibadah lainnya yang mudah dilihat oleh sesama manusia. Shalat di masjid
kelihatan, sedekah di masjid kadang diumumkan, zakat dicatat, haji justru
diantar berombongan.
Puasa? Tidak ada yang melihatnya kecuali
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat melihat makanan atau mencium bau yang lezat,
orang yang berpuasa tidak memakannya. Ketika ada minuman yang menggoda, dalam
kondisi haus pun orang yang berpuasa tidak meminumnya. Karena ia memiliki
kesadaran, meskipun tidak ada yang melihat, Allah mengawasinya.
Muraqabatullah, merasa diawasi oleh
Allah, ini adalah salah satu hikmah puasa. Yang jika dibawa dalam kehidupan
sehari-hari, ia akan terjaga dari berbagai kejahatan seperti berbohong, zalim
dan korupsi. Sebab ia yakin Allah mengawasinya.
3. Puasa meredam syahwat
Dalam kondisi lapar dan haus, gejolak
syahwat bisa diredam. Senjata ampuh yang digunakan syetan untuk menjerumuskan
manusia itu bisa dikendalikan dengan puasa. Karenanya Rasulullah memerintahkan
para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa.
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
“Wahai para pemuda, barangsiapa di
antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat
menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak
mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat mengontrol syahwatnya”
(HR. Bukhari dan Muslim)
4. Puasa melatih kesabaran
Meskipun miliknya sendiri, makanannya
halal, minumannya halal, itu semua tidak akan dikonsumsi kalau belum tiba waktu
berbuka. Meskipun lapar, ditahan. Meskipun haus, ditahan. Orang yang berpuasa
menjadi lebih sabar.
Demikian pula saat ada orang mencela
dirinya atau mengajaknya berselisih, Rasulullah mengajarkan untuk menahan diri.
الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai, maka barang siapa
sedang berpuasa janganlah berkata keji dan mengumpat. Jika seseorang mencela
atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: aku sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaih)
Ini salah satu hikmah puasa; melatih
kesabaran.
5. Puasa membentuk
disiplin
Puasa memiliki waktu yang mengikat.
Kapan mulai berpuasa sudah ada waktunya, yakni mulai terbit fajar. Kapan
berbuka juga ada waktunya, yakni ketika matahari terbenam.
Rasulullah juga mensunnahkan untuk
menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Jika di bulan lainnya sulit bangun
malam, ternyata waktu Ramadhan bisa. Disiplin bangun dini hari untuk makan
sahur bahkan qiyamul lail. Ini bukti salah satu hikmah puasa membentuk
disiplin.
6. Hikmah puasa secara
medis
Puasa memberi kesempatan bagi alat
pencernaan untuk beristirahat. Dengan peristirahatan yang teratur ini maka alat
pencernaan menjadi lebih sehat. Dan sudah menjadi hal yang lazim bahwa puasa
dipakai untuk mengobati beberapa pasien dan ketika akan melakukan operasi
besar.
Telah terbukti kebenarannya secara
ilmiah bahwa memperbanyak makan bisa menimbulkan penyakit seperti rematik,
penyakit liver, tekanan darah tinggi, dan kencing manis. Oleh karena itu, tidak
diragukan lagi bahwa puasa akan bisa memberikan kesempatan istirahat bagi tubuh
setiap tahunnya dalam waktu tertentu, yaitu seperdua belas dari umur si pasien.
Oleh karena itu, kata Said Hawwa dalam Al Islam, penyebaran jenis-jenis
penyakit seperti ini di daerah-daerah yang penduduknya terbiasa menjalankan
puasa sangat rendah.
Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar
mencontohkan KH Hasyim Asyari yang gemar berpuasa sunnah. Meskipun usia beliau
sudah tua, namun kondisi fisiknya sehat dan terjaga dari penyakit kadar gula.
7. Hikmah puasa secara
sosial
Dengan berpuasa, orang merasakan lapar
dan dahaga. Orang kaya jadi tahu seperti apa rasanya tidak makan, meskipun
hanya sekitar 14 jam.
Dari situ timbul kepekaan bagaimana
rasanya orang-orang yang kekurangan makanan. Bahkan mungkin tidak bisa makan
dalam hitungan hari seperti yang terjadi di Suriah atau di Rohingya.
Maka kepekaan itu pun melahirkan empati
untuk menolong sesama manusia terutama yang membutuhkan.
8. Hikmah puasa
membentuk taqwa
Pada akhirnya, secara keseluruhan dan
target akhir, puasa bermaksud membentuk pribadi yang bertaqwa. Yang mentaati
perintah Allah dan menjauhi larangannya.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS.
Al-Baqarah : 183)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar